“MERANA INSOMNIA”


Entahlah saat malam itu datang lagi, hati ini selalu dirajai dilema yang menjadi mata rantai pada tiap putaran roda waktu yang membiarkan angan terus mengembara sejauh lamunan berkelana. Seakan memaksa jemari angan tuk mengais cahaya gemintang pada langit yang bernuansa gelap itu.

 

   Lalu kapan dia pulang dan bersandar pada dermaga Tuannya raga.  Demikian untuk jeda yang cukup panjang hingga raga pun sulit untuk direbahkan pada singgasana peraduan karena mata masih saja mengasah belatinya hingga tajam lalu mencabik-cabik selaput malam dan enggan tuk diselimuti lelapnya mimpi. Lambat laun raga juga merosot jauh dari yang semestinya dan darah pun terkuras menuju habis, Lalu…? 

 

  Sudahlah paduka raga, tak usah membebankan rasa kepada si hati yang hanya akan melahirkan amarah di ujung gelisah. Nikmati saja semua yang disuguhkan malam, biarkan raga ini menunggangi waktu hingga menerobos dinding dan membuka tirai malam untuk menyambut fajar.

Advertisements